Jumat, 11 Mei 2012

Krisis perbankan, dilema Spanyol

Suara rakyat : Keputusan pemerintah Spanyol menasionalisasi bank terbesar keempat negara itu mencerminkan krisis yang menjangkiti sistem finansialnya. Bank menderita kerugian besar karena kredit macet di sektor properti.
Di sisi lain, hal ini menimbulkan kekhawatiran siapa akan ada bank yang menjadi korban selanjutnya. Bila pemerintah harus turun tangan lagi dan semakin terlibat dalam penyelamatan perbankan, maka semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan dan kemungkinan membutuhkan bantuan internasional.
Saham keuangan menanjak kembali kemarin, sehari setelah pemerintah mengumumkan pengambilalihan 45% saham Bankia SA, yang kolaps karena kerugian menyusul ambruknya sektor properti pada 2008. Bank tersebut mencatat eksposur terbesar dalam kredit macet dibandingkan bank lain.
Tapi karena pemerintah, dalam kondisi keuangan yang amburadul, harus membiayai pengambilalihan itu,  pasar semakin cemas nantinya juga turut butuh bantuan finansial. Yield obligasi masih tetap tinggi, mengindikasikan pelaku pasar masih resah dengan masa depan keuangan Spanyol. Karena nasib sektor perbankan Spanyol dan pemerintahnya berkaitan, para analis mengatakan pendekatan baru, kemungkinan menyangkut bantuan finansial internasional, diperlukan.
Menurut seorang analis, sudah menjadi rahasia umum, bank Spanyol menyimpan aset beracun (toxic asset) dalam jumlah besar, dan nilainya tidak sesuai dengan pembukuan. Memang, berdasarkan estimasi Bank of Spain, bank memegang sekitar 180 miliar aset yang berpotensi merugikan. Akhir-akhir ini, saham keuangan Spanyol bertumbangan karena kekhawatiran investasi mereka di sektor properti akan menggerus laba bahkan menyebabkan bank kecil,  seperti caja, kolaps.
Oleh karena itu, para analis memperingatkan penyelamatan Bankia tidak akan cukup, seluruh sektor butuh bantuan, tapi pemerintah tidak punya kemampuan finansial untuk melakukannya. Di sisi lain, menyehatkan sektor perbankan amatlah krusial untuk membantu pemulihan ekonomi, yang memasuki resesi keduanya dalam tiga tahun terakhir, dengan tingkat pengangguran mencapai 24,4%, tertinggi di zona euro.

0 komentar:

Posting Komentar