Yunani dalam kondisi carut marut, tidak memiliki uang untuk
menjalankan aktifitas kenegaraan sementara rakyat menolak
diberlakukannya kebijakan Austerity atau lebih dikenal dengan kebijakan
pengetatan anggaran super ketat. Dapat dikatakan bahwa Yunani sudah
bangkrut…benar-benar bangkrut.
Satu-satunya yang dapat menyelamatkan Yunani saat ini adalah uluran tangan internasional dalam bentuk pinjaman atau istilah kasarnya hutang. Yunani adalah cerminan buruknya tata kelola negara yang telah berlangsung bertahun-tahun dan saat ini mencapai klimaknya. Dan fakta terburuk adalah, Yunani tidak sendiri, beberapa ekonomi besar zona euro turut terlibat krisis terbesar abad ini dan suatu saat siap meledak.
Alkisah pemerintah Yunani terus melakukan pinjaman, berharap aktifitas ekonomi dapat menutupi semua bunga yang harus dibayarkan. Namun krisis keuangan melanda, mulai dari gagalnya investasi sektor perumahan yang dulu dipicu oleh Amerika Serikat sampai ke kegiatan malpraktek perbankan yang menyalah gunakan dana investor maupun investasi legal yang berujung kepada salah strategi, semuanya terakumulasi menjadi sebuah penyebab ambrugnya perekonomian zona euro.
Krisis Eropa menyeret institusi pemerintahan sekaligus perbankan, menyebabkan lumpuhnya aktifitas ekonomi. Untuk menyelamatkan Yunani otoritas Uni Eropa telah menyiapkan beberapa langkah termasuk dana stimulasi namun dengan syarat tertentu.
Yunani dinilai tidak kooperatif dan tidak tunduk kepada kesepakatan yang telah digagas dan ditanda-tangani oleh elemen-elemen yang tergabung kedalam zona euro. Syarat yang diajukan tidaklah populer, pemerintahan terdahulu Yunani yang dipimpin oleh George Papandreou terpaksa gulung tikar akibat mosi tidak percaya masyarakat dan aksi demo besar-besaran telah meruntuhkan dominasi elite dan kekuasaan kembali ke tangan rakyat.
Gagalnya pemerintahan temporal saat ini dalam membangun koalisi kebangsaan telah menyulut kemarahan zona euro, yang mempertanyakan keseriusan Yunani dalam menuntaskan krisis nasional. Yunani telah menimbulkan instabilitas di jagad Eropa. Yunani adalah duri didalam daging bagi Eropa. Yunani bagai buah simalakama.
Mempertahankan atau menendang Yunani dari keanggotaan zona euro sama-sama berimplikasi negatif. Keduanya bukanlah opsi yang mengenakkan meski sebuah keputusan final harus dibuat.
Sejauh ini Yunani masih mendapat dukungan dari negara-negara maju yang tergabung didalam G-8 agar bertahan di zona euro. Dukungan ini bukan tanpa alasan karena hasil polling antara partai yang mendukung dan menolak dana bailout Uni Eropa terpaut cukup ketat. Harapannya tentu saja, jika pihak yang mendukung bantuan Uni Eropa menang, maka kebijakan pengetatan dapat dijalankan sesuai rencana.
Sebaliknya jika partai yang menolak bantuan Uni Eropa menang, maka itu artinya bencana bagi zona euro khususnya, kesepakatan pengetatan terancam batal atau diratifikasi dan jika langkah yang ditempuh adalah keluar, maka dampak sistemik akan terjadi.
Melihat situasi diatas, mantan deputy director Badan Moneter Internasional El Erian, seperti dikutip dari Bloomberg menyatakan bahwa Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol sebagai ekonomi empat besar harus tampil memimpin dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan cara merampingkan keanggotaan.
Menurut El Erian situasi ekonomi Eropa dan Amerika tidak begitu menguntungkan sehingga berpotensi memperparah krisis. Obligasi yang diandalkan kedua pemerintah tampaknya tidak begitu laku dipasaran akibat tingginya resiko sehingga minat investor untuk membeli turun drastis. Singkatnya apa yang bisa anda harapkan dari negara yang tertimpa krisis. Alih-alih ingin mendapatkan untung malah harus menanggung kerugian seperti yang terjadi kepada konsorsium investor swasta yang turut membailout Yunani beberapa bulan lalu.
Oleh Uni Eropa mereka dipaksa menanggung kerugian setidaknya mencapai 80 persen, bahkan ada spekulasi menyebutkan potensi kerugian yang harus ditanggung diatas angka tersebut.
Saat ini ekonomi besar zona euro dihuni oleh Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol. Pertanyaan yang mencuat adalah; bukankah Perancis, Italia dan Spanyol juga berada dalam situasi krisis? artinya satu-satunya negara yang dapat digolongkan sehat adalah Jerman. Sementara itu gap atau celah kekayaan antara Jerman dan ketiga negara lainnya sangat jauh.
Sementara kita ketahui bersama bahwa negara yang membutuhkan dana bantuan bukan Yunani saja, tapi Spanyol bahkan Italia dan Perancis. Apakah Jerman siap mengorbankan akumulasi kekayaan mereka, yang dikumpulkan dari wajib pajak, hanya untuk membantu tetangga-tetangga mereka yang sedang berulah?
Sejak awal krisis mencuat, masyarakat Jerman begitu resistant (menolak) ide intervensi negara dalam krisis zona euro, apalagi keterlibatan Jerman dalam pemberian bantuan yang proporsinya mencapai setengah dari total bantuan. Akibatnya pemerintahan Merkel mendapat kritikan tajam dan posisi Merkel dipertaruhkan dalam pemilu mendatang.
Sebutlah Jerman tidak akan mungkin meminta bantuan ECB karena sedari awal ECB memang tidak didesain sebagai lembaga kredit. ECB sengaja dipersiapkan sebagai senjata pamungkas untuk permasalahan yang lebih besar lagi, yang pasti bukan krisis utang Yunani. Jika Jerman mau mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Yunani dan negara-negara sakit lainnya maka dampak ekonomi yang harus ditanggung Jerman sangatlah besar, sementara tidak ada jaminan krisis utang ini akan selesai dalam waktu 1-2 tahun ini.
Jika analisa kita landaskan kepada teori diatas, maka alasan yang paling logis untuk meredam krisis (bukan menyelesaikan) adalah membuang negara-negara sakit untuk kemudian membangun aliansi bersama-sama dengan negara-negara setengah sakit yang setidaknya masih mempunyai harapan hidup lebih panjang. “Less cost, low impact”, setidaknya dalam skala yang lebih kecil dibandingkan komposisi 17 negara anggota.
Sumber Berita: financeroll.co.id
Satu-satunya yang dapat menyelamatkan Yunani saat ini adalah uluran tangan internasional dalam bentuk pinjaman atau istilah kasarnya hutang. Yunani adalah cerminan buruknya tata kelola negara yang telah berlangsung bertahun-tahun dan saat ini mencapai klimaknya. Dan fakta terburuk adalah, Yunani tidak sendiri, beberapa ekonomi besar zona euro turut terlibat krisis terbesar abad ini dan suatu saat siap meledak.
Alkisah pemerintah Yunani terus melakukan pinjaman, berharap aktifitas ekonomi dapat menutupi semua bunga yang harus dibayarkan. Namun krisis keuangan melanda, mulai dari gagalnya investasi sektor perumahan yang dulu dipicu oleh Amerika Serikat sampai ke kegiatan malpraktek perbankan yang menyalah gunakan dana investor maupun investasi legal yang berujung kepada salah strategi, semuanya terakumulasi menjadi sebuah penyebab ambrugnya perekonomian zona euro.
Krisis Eropa menyeret institusi pemerintahan sekaligus perbankan, menyebabkan lumpuhnya aktifitas ekonomi. Untuk menyelamatkan Yunani otoritas Uni Eropa telah menyiapkan beberapa langkah termasuk dana stimulasi namun dengan syarat tertentu.
Yunani dinilai tidak kooperatif dan tidak tunduk kepada kesepakatan yang telah digagas dan ditanda-tangani oleh elemen-elemen yang tergabung kedalam zona euro. Syarat yang diajukan tidaklah populer, pemerintahan terdahulu Yunani yang dipimpin oleh George Papandreou terpaksa gulung tikar akibat mosi tidak percaya masyarakat dan aksi demo besar-besaran telah meruntuhkan dominasi elite dan kekuasaan kembali ke tangan rakyat.
Gagalnya pemerintahan temporal saat ini dalam membangun koalisi kebangsaan telah menyulut kemarahan zona euro, yang mempertanyakan keseriusan Yunani dalam menuntaskan krisis nasional. Yunani telah menimbulkan instabilitas di jagad Eropa. Yunani adalah duri didalam daging bagi Eropa. Yunani bagai buah simalakama.
Mempertahankan atau menendang Yunani dari keanggotaan zona euro sama-sama berimplikasi negatif. Keduanya bukanlah opsi yang mengenakkan meski sebuah keputusan final harus dibuat.
Sejauh ini Yunani masih mendapat dukungan dari negara-negara maju yang tergabung didalam G-8 agar bertahan di zona euro. Dukungan ini bukan tanpa alasan karena hasil polling antara partai yang mendukung dan menolak dana bailout Uni Eropa terpaut cukup ketat. Harapannya tentu saja, jika pihak yang mendukung bantuan Uni Eropa menang, maka kebijakan pengetatan dapat dijalankan sesuai rencana.
Sebaliknya jika partai yang menolak bantuan Uni Eropa menang, maka itu artinya bencana bagi zona euro khususnya, kesepakatan pengetatan terancam batal atau diratifikasi dan jika langkah yang ditempuh adalah keluar, maka dampak sistemik akan terjadi.
Melihat situasi diatas, mantan deputy director Badan Moneter Internasional El Erian, seperti dikutip dari Bloomberg menyatakan bahwa Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol sebagai ekonomi empat besar harus tampil memimpin dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan cara merampingkan keanggotaan.
Menurut El Erian situasi ekonomi Eropa dan Amerika tidak begitu menguntungkan sehingga berpotensi memperparah krisis. Obligasi yang diandalkan kedua pemerintah tampaknya tidak begitu laku dipasaran akibat tingginya resiko sehingga minat investor untuk membeli turun drastis. Singkatnya apa yang bisa anda harapkan dari negara yang tertimpa krisis. Alih-alih ingin mendapatkan untung malah harus menanggung kerugian seperti yang terjadi kepada konsorsium investor swasta yang turut membailout Yunani beberapa bulan lalu.
Oleh Uni Eropa mereka dipaksa menanggung kerugian setidaknya mencapai 80 persen, bahkan ada spekulasi menyebutkan potensi kerugian yang harus ditanggung diatas angka tersebut.
Saat ini ekonomi besar zona euro dihuni oleh Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol. Pertanyaan yang mencuat adalah; bukankah Perancis, Italia dan Spanyol juga berada dalam situasi krisis? artinya satu-satunya negara yang dapat digolongkan sehat adalah Jerman. Sementara itu gap atau celah kekayaan antara Jerman dan ketiga negara lainnya sangat jauh.
Sementara kita ketahui bersama bahwa negara yang membutuhkan dana bantuan bukan Yunani saja, tapi Spanyol bahkan Italia dan Perancis. Apakah Jerman siap mengorbankan akumulasi kekayaan mereka, yang dikumpulkan dari wajib pajak, hanya untuk membantu tetangga-tetangga mereka yang sedang berulah?
Sejak awal krisis mencuat, masyarakat Jerman begitu resistant (menolak) ide intervensi negara dalam krisis zona euro, apalagi keterlibatan Jerman dalam pemberian bantuan yang proporsinya mencapai setengah dari total bantuan. Akibatnya pemerintahan Merkel mendapat kritikan tajam dan posisi Merkel dipertaruhkan dalam pemilu mendatang.
Sebutlah Jerman tidak akan mungkin meminta bantuan ECB karena sedari awal ECB memang tidak didesain sebagai lembaga kredit. ECB sengaja dipersiapkan sebagai senjata pamungkas untuk permasalahan yang lebih besar lagi, yang pasti bukan krisis utang Yunani. Jika Jerman mau mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Yunani dan negara-negara sakit lainnya maka dampak ekonomi yang harus ditanggung Jerman sangatlah besar, sementara tidak ada jaminan krisis utang ini akan selesai dalam waktu 1-2 tahun ini.
Jika analisa kita landaskan kepada teori diatas, maka alasan yang paling logis untuk meredam krisis (bukan menyelesaikan) adalah membuang negara-negara sakit untuk kemudian membangun aliansi bersama-sama dengan negara-negara setengah sakit yang setidaknya masih mempunyai harapan hidup lebih panjang. “Less cost, low impact”, setidaknya dalam skala yang lebih kecil dibandingkan komposisi 17 negara anggota.
Sumber Berita: financeroll.co.id







0 komentar:
Posting Komentar