Tampilkan postingan dengan label Suara Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Rakyat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Kelapa Sawit Investasi Yang Menjanjikan

Negeri kita   memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya. Usaha perkebunan kelapa sawit merupakan potensi bisnis perkebunan yang sangat menguntungkan. Kelapa sawit sangat bermanfaat mulai dari industri makanan sampai industri kimia.
Industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, ice cream pakan ternak, minyak goreng, produk obat–obatan dan kosmetik, krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin and beta carotene juga memerlukan minyak sawit.
Industri berat dan ringan, industri kulit (untuk membuat kulit halus dan lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi), cold rolling and fluxing agent pada industri perak, dan juga sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di  industri logam juga membutuhkan bahan baku dari hasil kelapa sawit.
Bahkan minyak sawit dibutuhkan juga untuk industri kimia seperti detergen, sabun, dan minyak. Sisa-sisa dari industri minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, bahan semir furniture, bahan anggur.
Produk turunan CPO bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi minyak goreng kelapa sawit, margarine, shortening, vanaspati (Vegetable ghee), ice creams, bakery fats, instans noodle, sabun dan detergent, cocoa butter extender, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, biskuit cream fats, filled milk, lubrication, textiles oils dan bio diesel.
Produk turunan minyak inti sawit bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi shortening, cocoa butter substitute, specialty fats, ice cream, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled mild, imitation cream, sabun, detergen  shampoo dan kosmetik.
Selain minyaknya, ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan.
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk organik, pupuk kompos maupun pupuk kalium. Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, dan polipot.
Pelepah pohon dan CPO dapat dijadikan ekstrak untuk Vitamin E. Batang pohon dapat dijadikan “fiber board” untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari dan sebagainya. Ampas tandan/buangan sisa pabrik dapat dijadikan serbuk pengisi kasur, bantalan kursi, dan sebagainya.
Secara historis pertumbuhan produksi minyak sawit dunia selama dua dasawarsa terakhir ini mengalami kenaikan sekitar 7,3% pertahun. Perkembangan minyak sawit dunia ini sangat dipengaruhi oleh produksi minyak sawit dari negara Malaysia dan Indonesia yang memberikan kontribusi sebesar 80% dari produksi dunia.
Berdasarkan data Oil Word diperkirakan produksi CPO lima tahun ke depan akan meningkat tapi lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi masyarakat dunia. Tingkat produksi CPO dunia masih dikuasai oleh Malaysia dengan pengusaan 50% market dunia, sedangkan Indonesia berada pada tingkat kedua dengan 30% penguasaan market dunia. Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama CPO dunia dengan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar.
Negara-negara produsen lainnya, seperti Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini, dan bahkan Pantai Gading, boleh dibilang hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati peringkat teratas dengan volume produksi pada 2009 mencapai 13,35 juta ton. Sementara Indonesia masih 11,5 juta ton. Menurut ramalan Oil World, volume produksi CPO Indonesia pada 2012 bakal mencapai 12 juta ton.
Namun, agaknya ramalan itu bakal meleset. sebabnya banyak kalangan optimis volume produksi CPO Indonesia bakal segera mengalahkan Malaysia, terlebih jika melihat luas lahan di Malaysia yang kian terbatas, sementara di Indonesia masih begitu luas.
Produksi minyak sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan terutama industri minyak goreng dan industri non pangan seperti industri kosmetik dan farmasi. Namun, potensi pasar paling besar adalah industri minyak goreng.
Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada pertambahan kebutuhan pangan terutama minyak goreng. Sampai tahun 2010 produksi minyak goreng Indonesia baru mencapai 3,1 juta ton dengan kontribusi minyak goreng sawit 2,3 juta ton (74 %). Kebutuhan untuk memproduksi minyak goreng sawit sebesar itu memerlukan 3,3 juta ton minyak sawit.
Pada dasarnya, ada 2 kekuatan besar yang berpengaruh pada pembentukan harga komoditas kelapa sawit, yaitu kekuatan pasar (marketing forces) dan pengendalian oleh pemerintah (government intervention).
Dengan demikian, penetapan harga kelapa sawit didasarkan pada kekuatan pasar, tingkat persaingan dan juga pengendalian pemerintah. Setelah itu penetapan harga kelapa sawit harus disesuaikan dengan harga jual dalam dan luar negeri, dengan perincian sebagai berikut:
1.    Harga jual dalam negeri.
Kedudukan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku minyak goreng yang merupakan 9 bahan pokok menyebabkan pemerintah tidak berlepas tangan. Disini perusahaan perkebunan kelapa sawit berhadapan dengan pihak prosesor, yang oleh pemerintah sudah ditentukan bahwa harga jual produksi prosesor dalam bentuk minyak goreng harus terjangkau oleh rakyat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah tersebut.
2.    Harga jual luar negeri.
Penetapan harga dilakukan dengan cara open tender atau dengan cara competitive bidding. Demi kelancaran perluasan pasar dan pengamanan terhadap risiko sengketa, risiko claim, atau hal-hal lain yang dapat merugikan, dalam kontrak penjualan akan menggunakan ketentuan yang telah diatur oleh International Trade Association (Asosiasi Komoditi International). Dengan adanya faktor-faktor penetapan harga tersebut diatas, perusahaan kelak akan terus meneruskan melakukan penghematan biaya produksi guna menghasilkan marjin laba yang signifikan
Risiko Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit

1. Pencurian Hasil Panen
Lahan budidaya yang luas dan jumlah kelapa sawit yang banyak mengakibatkan susahnya pengawasan dan pengontrolan. Pencurian dan penjarahan hasil panen selalu saja terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya pengamanan yang ekstra. Tetapi untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
2. Gagal Panen
Penyakit dalam bentuk jamur, gulma dan hama yang menyerang pada perkebunan kelapa sawit sangat sulit dihilangkan dan bisa menular ke seluruh areal perkebunan, sehingga mengakibatkan gagal panen.
3.            Harga yang Naik Turun
Harga pasar sewaktu-waktu dapat naik dan turun karena kelapa sawit merupakan komoditas yabg harganya mengikuti pasar di dunia dan kebijakan pemerintah. Hal ini bisa berdampak bagi siapapun yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

@@@@@@@@@

Jumat, 07 Oktober 2011

MUTU KAKAO INDONESIA MASIH RENDAH

Kakao  merupakan tanaman tahunan yang menjadi salah satu unggulan ekspor non migas Indonesia. Kakao berpotensi tetap menjadi produk unggulan pertanian di Indonesia karena iklim Indonesia yang tropis dan dapat memenuhi syarat tumbuh tanaman tersebut. Untuk saat ini, Indonesia merupakan produser kakao nomor tiga terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
Kakao Indonesia memiliki keunggulan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok digunakan untuk blending. Apabila difermentasi dan diolah dengan baik, maka kualitasnya dapat mengalahkan kakao Ghana. Pasar kakao Indonesia juga berpotensi untuk tetap naik apalagi kondisi Indonesia lebih baik daripada kedua negara pesaing tersebut.
Tanaman perkebunan ini telah mendorong dunia agribisnis Indonesia menjadi lebig menggeliat. Hal ini dibuktikan dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Pada tahun 2010, tercatat 900.000 kepala keluarga petani kakao di Indonesia. Perkebunan kakao di Indonesia sebagian besar (87,4%) merupakan perkebunan rakyat sedangkan sisanya dikelola perkebunan besar (6%) dan perkebunan swasta (6,7%).
Varietas kakao yang umumnya ditanam di perkebunan kakao di Indonesia adalah varietas Criolo (Fine Cocoa), Forastero (Bulk Cocoa) dan Trinitario (Hybrid). Dari ketiga jenis tersebut, yang memiliki tingkat produksi tinggi adalah varietas Forastero terutama kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH). UAH juga cepat mengalami masa generatif setelah 2 tahun dan tahan penyakit VSD (Vascular Streak Dieback).
Hasil produksi tanaman yang tinggi dapat dimungkinkan dengan memenuhi semua syarat tumbuh, pengadaan bibit yang berkualitas tinggi dan manajemen lahan yang baik. Banyak daerah di Indonesia yang cocok untuk lokasi tanam kakao karena dapat memenuhi syarat tanaman kakao. Pengadaan bibit kakao kualitas tinggi sudah mulai dikembangkan dengan penggunaan teknik Somatic Embryogenesis (SE) sehingg diharapkan dapat mendukung penyediaan bibit klonal skala massa. Namun, manajemen lahan kakao di Indonesia masih belum optimal, masih butuh perbaikan.
Beberapa tahapan harus dilewati dalam pembudidayaan kakao, dimulai dengan pembuakaan lahan, pembibitan, penanam tanaman pelindung, penanaman bibit, pemeliharaan (penyiraman, pemangkasan, penyiangan gulma, proteksi terhadap hama dan penyakit, dan panen. Selanjutnya adalah pascapanen yang terdri atas pemeraman, pemecahan buah, fermentasi, perendaman dan pencucian, penyortiran dan penyimpanan. Tahapan tersebut menggambarkan bahwa industri kakao di Indonesia berpotensi meluas bahkan sampai ke industri hilir dan pengolahan kakao lebih lanjut menjadi produk siap pakai.
Indonesia termasuk ke dalam jajaran produsen kakao terbesar dunia namun kebutuhan kakao dalam negeri masih sedikit. Tigaperempat dari produksi kakao Indonesia diekspor di dalam negeri sementara seperempat lainnya digunakan untuk industri dalam negeri. Impor kakao Indonesia juga kecil, bahkan ada kecenderungan penurunan impor biji. Indonesia lebih mengimpor kakao dalam bentuk makanan jadi atau produk-produk yang mengandung kakao. Negara penghasil kakao/cokelat terbesar adalah Belanda, padahal negara ini juga termasuk dalam pengimpor biji kakao terbesar.
Banyak masalah yang harus dihadapi perkakaoan Indonesia. Masalah-masalah tersebut sangat luas dan rumit yang terbentang dari industri hulu sampai hilir. Apabila dicari masalah utamanya maka akan didapatkan persoalan sumberdaya, kebijakan dan keuangan.
Masalah utama pertama yang menimpa perkakaoan Indonesia adalah sumberdaya manusia yang kurang. Sekitar 87% petani kakao Indonesia memiliki pengetahuan yang kurang mengenai seluk-beluk perkakaoan. Mereka mungkin hanya mendapatkan keahlian bercocok tanam kakao yang diwariskan dari pendahulu mereka. Padahal perkebunan kakao Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat.
Sumber daya manusia yang minim dapat menyebabkan manajemen yang tidak optimal. Beberapa pihak telah mengusulkan untuk menambah jumlah tenaga penyuluh petani kakao terutama untuk daerah Sulawesi yang merupakan penghasil kakao terbesar di Indonesia saat ini. Penyuluhan dengan materi bercocok tanam saja juga tidak begitu berpengaruh, sehingga dibutuhkan penyuluhan terpadu yang dapat menggeliatkan masyarakat kakao secara keseluruhan.
Masalah berikunya adalah kebijakan pemerintah yang menyebabkan hampir semua ekspor kakao Indonesia dalam bentuk biji. Pemerintah yang menetapkan PPN 10% untuk pembelian biji kakao. Petani menjadi lebih senang mengekspor biji kakao daripada mengolahnya kembali. Industri pengolahan kakao dan coklat di Indonesia juga menjadi lesu, keragaman produk kakao juga rendah. Padahal, pada pohon industri kakao, berbagai macam potensi industri dapat dihasilkan, mulai dari cocoa powder, cocoa concentrate sampai cocoa butter untuk industri makanan; lethicin, tannin, alkohol untuk industri kimia; hingga pupuk hijau dan pakan ternak. Untuk itu, perlu ditinjau kembali kebijakan tersebut, atau pemerintah lebih mendorong petani kakao Indonesia dengan segala fasilitas fisik, dana dan kebijakan lain yang mendukung.
Masalah utama terakhir adalah masalah keuangan atau dana. Kekurangan modal membuat rentetan masalah yang panjang. Hal ini diperparah dengan sulitnya menerima pinjaman bank, naiknya harga pupuk dan pestsida dan penurunan harga kakao di tingkat petani.
Data menyebutkan bahwa tahun 2010 terjadi penurunan harga kakao di Indonesia mengalami penurunan. Penyebab utamanya adalah anjloknya harga kakao dunia. Kondisi tanaman yang tua sehingga produksi cenderung terus menurun. Tahun ini bahkan akan diprediksikan terjadinya penurunan produksi karena banyak tanaman yang akan di revitaslisasi. Revitalisasi yang akan menyebabkan penurunan produksi tahun 2011 ini diharapkan dapat meningkatkan produksi untuk tahun-tahun berikutnya.
Indonesia merupakan produsen kakao nomor tiga terbesar di dunia namun biji kakao Indonesia kurang diminati karena mutu kakao Indonesia rendah. Selama ini, biji kakao Indonesia merupakan batas standar mutu ekspor-impor biji kakao. Bahkan di Amerika Serikat, biji kakao Indonesia mendapatkan automatic detention kerena sering ditemukan jamur, kotoran, serangga dan benda-benda asing lainnya.
Rendahnya mutu kakao Indonesia ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Kualimortas tanaman kakao Indonesia yang menurun, karena kebanyakan kakao di Indonesia telah menua.
2. Penyakit VSD (Vascular Streak Dieback) dan hama PBK (Pengerek Buah Kakao) yang menyerang kebanyakan perkebunan kakao di Indonesia.
3. Biji kakao Indonesia jarang yang di fermentasi terlebih dahulu, padahal mutu biji yang telah difermentasi lebih baik daripada yang belum difermentasi.
4. Teknologi pascapanen yang masih sederhana dan mesin pengolahan yang telah tua.
5. Sarana dan prasarana pendukung yang kurang, seperti gudang; pasokan listrik yang kurang; transportasi dari, ke dan di dalam kebun, tempat pengolahan dan menuju negara pengekspor yang masih buruk.
Mutu kakao Indonesia yang cenderung tidak membaik ini menyebabkan persepsi pasar dunia terhadap kakao Indonesia sulit membaik. Selain automatic detention yang dilakukan Amerika Serikat, beberapa negara ekspor memberikan tarif yang lebih tinggi. Permasalahan ini sulit dipecahkan, kecuali Indonesia meningkatkan mutu kakaonya dan adanya campur tangan pemerintah.
Keadaan alam Indonesia merupakan potensi awal produksi kakao Indonesia namun produksi yang optimal tidak bisa mengandalkan sumberdaya saja, namun dibutuhkan sumberdaya manusia yang baik, kepedulian pemerintah dan modal yang cukup. Produksi yang optimal bukan hanya dalam bentuk kuantitas namun kualitasnya. Mutu kakao harus ditingkatkan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pasar dunia.
Banyaknya masalah yang menimpa kakao Indonesia, membutuhkan kejasama semua pihak untuk menjalankan keseluruhan manajemen kakao yang sangat rumit ini, mulai dari petani, pemerintah, akademisi dan pihak-pihak lainnya. Kerjasama yang terpadu dapat meningkatkan potensi keberlanjutan industri kakao di Indonesia
@@@@@@@@

Kamis, 18 Agustus 2011

"NIKAHlLAH AKU SAYANG" By. Dewa S


Cerpen  Anak Rakyat
     " Sayangku!  Nikahilah Aku"
      Itu awal dari suratnya. Membuat jantungku berdegup kencang, dan menahan rasa dalam baur. Kukuatkan diriku untuk melanjutkan membaca surat itu, perlahan.
      "Aku ingin menikah, Sayangku! Bukan karena semata aku ingin menunaikan hal yang selama ini diserukan oleh agama bagi umatnya yang telah akil-balig, tetapi aku ingin juga menikmati keindahan dan kebahagiaan pernikahan itu sendiri."
      Aku menggeleng tanpa sadar.
     "Bagiku, pernikahan merupakan sebuah kemantapan batin. Bukanlah hal yang mudah memang untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan sakral yang tak bisa dipermainkan selayaknya ketika berpacaran. Tetapi aku inginkan itu. Aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka. Aku merindukan semua hal itu, dan aku menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada cobaan dan tantangan yang harus aku lalui. Tidak mudah memang menjalani gasingan roda rumah tangga sementara aku juga tengah meniti karier."
      Lagi-lagi aku menggeleng tanpa sadar. Padahal wajah manis itu tidak sedang berada di hadapanku. Ia berada jauh, sangat jauh di suatu tempat.
      "Bukankah sudah sering kuceritakan dulu bahwa, aku ingin sekali menikah muda. Kau mau tahu alasannya? Karena aku merasa tertantang untuk melakukan hal itu. Boleh jadi semua itu obsesi. Tetapi menjalani hal berat tersebut, aku akan merasa bangga menjadi seorang istri sah, sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku. Kau tahu, betapa bahagianya dapat melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa. Dan ketika penatku buncah setelah seharian bekerja, aku akan dihibur oleh celoteh kecil dari anak-anakku. Anak-anak yang kulahirkan sendiri dari rahimku. Lagipula, aku juga merasa sudah melakukan perbuatan berpahala jika dapat mengurus suami yang aku cintai dengan  layak. Bukankah itu juga merupakan limpahan cinta yang aku aplikasikan dalam perbuatan? Setiap malam pula, aku akan berdandan secantik mungkin di hadapan suamiku agar aku dipeluknya, dan aku dan ia akan bercumbu sampai fajar."
      Aku bergidik. Takut membayangkan kenyataan itu.
      "Aku tahu, mungkin semua keinginanku ini terlalu picik. Aku pun sadar, ini tidak gampang untukmu. Sebab aku tahu, terlalu banyak hal yang mesti kau selami sebelum benar-benar dapat mewujudkan keinginanku tersebut, menikah! Tetapi keinginanku tersebut bukanlah hal yang muskil. Aku yakin Tuhan  selalu akan memberi jalan bagi umatnya yang ingin berusaha. Tuhan akan membuka pintu rezeki kau dan aku. Meski aku sadar, saat ini kepapaan kita merupakan aral yang menghambat perwujudan keinginan aku itu. Maafkan aku jika ini terlalu muluk dan sedikit obsesif."
      Aku hela napas panjang. Pikiranku berkecamuk.
      "Kau tahu, Sayangku? Betapa aku ingin menikah. Betapa aku ingin mengamalkan ibadah nikah. Dengan menikah, berarti aku telah menyempurnakan ibadahku dan juga agamaku. Menikah bukanlah hal yang menakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dalam tanggung-jawab dan kewajiban masing-masing."
      Aku semakin kalut. Menggigil dalam diam.
      "Sayangku, dengan menikah bukan berarti kau akan terpasung bagai penjara. Tidak. Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa. Yang berbeda hanyalah dimensi dan ruang yang berbeda pula. Kau masih akan memiliki waktu luang. Begitu pula sebaliknya dengan aku. Kita hanya perlu mengganti status kita yang lajang dengan suami bagi kau, dan istri bagi aku."      Aku masih membaca suratnya dengan hati galau.
      "Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dapat memiliki kesempatan untuk berumah tangga. Betapa semua ini adalah anugerah yang tidak setiap orang mendapatkannya. Kau dan aku akan saling menyayangi. Saling berbagi. Saling bercengkerama. Dan mungkin saling bertengkar untuk memadukan ketidaksepahaman. Namun aku yakin, kita adalah pengawal dan penjaga hati bagi diri kita masing-masing. Kau akan merawatku, demikian pula sebaliknya. Aku akan merawatmu. Kita akan sehidup-semati!"
      Aku terhenyak. Kalimat dalam suratnya menohok dadaku. Aku terlalu miskin untuk mewujudkan keagungan yang dikehendakinya!
      "Sayangku, keinginan ini sesungguhnya sudah kupendam sejak lama. Namun selama ini aku bagai pecundang yang tidak berani mengungkap. Hati dan batinku tidak akan pernah tenang selamanya. Bahwa hubungan yang telah kita bina selama ini akan tersuruk di dalam limbah dosa. Bahwa hubungan yang telah kita rajut selama ini akan terempas oleh kekerdilan kita yang salah mengarti. Sesungguhnya banyak godaan yang kelak akan menghancurkan hidup aku dan kau jika kita masih bertahan dan menepis 'pernikahan sakral' yang merupakan ibadah itu."
      Aku tepekur serupa patung.
      "Sayangku, tentulah kau akan mengartikan semuanya ini terlalu naif bagi kita yang belia. Mungkin. Apalagi aku masih saja merintis karierku yang baru seumur jagung. Demikian pula dengan kau yang baru ingin merdeka dan mandiri, terlepas dari tanggung jawab kedua orangtuamu yang sudah uzur. Tetapi aku yakin, semua itu dapat kita padukan seiring-sejalan jika kita memang bersikeras menjalaninya dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati. Seperti cinta yang telah kita bina selama ini."
      Aku memejamkan mata. Mencoba untuk meredakan kecamuk di benakku.
      "Pikirmu, kita ini mungkin terlalu rapuh, dan berlagak tegar dengan membangun bahtera rumah tangga. Sayangku, pikirmu betapa bernyalinya aku yang berani mengarungi deru dan kerasnya ombak kehidupan dengan bahtera rumah tangga yang dinahkodai olehmu. Tetapi tidak, Sayangku. Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa, Tuhan tidak akan membiarkan kita tenggelam jika bahtera rumah tangga kita selalu berada di jalan yang benar? Kalaupun ada gelombang, itu hanyalah riak-riak kecil dan merupakan cobaan hidup buat menempa kita menjadi tangguh dan kuat. Jadi, perkenankanlah aku mewujudkan impianku ini, Sayangku. Biarlah semuanya; karier dan cinta dalam rumah tangga kita seiring-sejalan dan berjalan secara alami."
      Aku mengusap wajah, mencoba menghalau resah dan gentar.
      "Menurutku, satu tahun sudah cukup untuk mengenal karakter kita masing-masing, dan aku rasa telah cukup mengenalmu. Apa pemahamanku ini salah?"
      Aku mengangguk tak sadar, lantas menggeleng cepat menggebah pengakuan nuraniku tadi.
      "Mungkin kau akan terbebani oleh permintaanku ini, Sayangku. Tetapi bukan maksudku membebanimu dengan masalah baru meski saat ini kau masih berkutat dengan masalahmu yang belum terpecahkan sendiri, yang saat ini tengah belajar untuk mandiri dan dewasa dan tak tergantung lagi oleh orangtuamu yang tergolong sederhana. Namun aku hanya tidak ingin kita terjerembab di dalam cinta yang telah tercemari nista. Terkutuklah kita nantinya, Sayangku. Dan aku lebih memilih hidup sengsara di dalam bahtera rumah tangga yang rapuh ketimbang harus menanggung beban dosa yang kita ciptakan di atas kenikmatan ragawi."
      Mataku mulai memanas. Tegarku diaduk haru. Aku teringat kedua orangtuaku yang sudah tua, serta dua orang adikku yang masih kecil-kecil, yang mesti aku tanggung. Berapa nyawa yang akan kuhidupi kelak?!
      "Berdoalah, Sayangku. Keputusan ini memang mahaberat. Namun Tuhan pasti memberi petunjuk dan akan meringankan segala beban batin yang kau pikul."
      Aku seperti gila. Kuacak-acak rambutku sembari menggigit bibir. Airmataku sudah jatuh berlinang.
      "Maafkan aku, Sayangku. Aku merasa cinta terlalu sempurna untuk dikotori dengan nista. Bukan karena aku ini suci, namun justru karena itulah aku ingin mensucikan cinta kita. Menempatkannya di tempat teratas, dan jauh dari Petaka."
      Aku menjerit tanpa sadar. Menelungkupkan kedua belah telapak tangan di wajahku yang sembap.
      "Sayangku, cinta yang suci akan menyempurnakan kita menjadi insan yang lebih baik. Menikah adalah ibadah. Dan bukannya mengikat kita serupa belenggu. Renungilah semua itu."
      Aku sesenggukan. Airmataku tak terbendung. Tiba-tiba menjadi lebih cengeng ketimbang bocah.
      "Biarlah kita belajar untuk menjadi dewasa di dalam pernikahan sakral ini, Sayangku. Biarlah waktu akan menempa dan membentuk kita menjadi manusia yang tegar di jalan yang telah kita pilih: Pernikahan! Jangan sangsi dengan keputusan mahaberat yang telah kita putuskan bersama: Pernikahan! Ketidakberdayaan dan kelemahan hanya belenggu yang senantiasa mengikat kita dalam mungkir, sehingga bila cuai kelak, maka kita akan dijerumuskan dalam sesat cinta terlarang. Aku tidak ingin kita jatuh dalam zinah. Dan penuhi permintaanku yang mungkin hanya kupinta seumur hidupku: Nikahi aku!"
      Aku seperti sudah tidak sanggup meneruskan membaca surat darinya.
      "Yakinlah dengan jalan yang kita pilih ini, Sayangku. Lalui semuanya dengan ikhlas."
      Aku menelentangkan diri di pembaringan, tubuhku lemas di antara tangisku yang sedu.
      "Atas nama cinta yang wangi, sudilah kau menikahiku, Sayangku. Seberat apapun keputusan itu. Karena aku yakin, jalan yang kau putuskan, suatu saat kelak, akan indah pada waktunya! Sebab Tuhan Maha Besar, dan akan membimbing serta menuntun kita dengan cahaya-Nya! Yakinlah!"
     Aku bangkit dari berbaring, masih berusaha meraih surat darinya yang kuempaskan sesaat tadi. Surat yang membuat aku seperti pengecut yang kehilangan nyawa. Surat darinya itu kulanjutkan sekilas dengan ekor mataku.
     "Aku tidak peduli, seberapa besar cintamu kepadaku. Mungkin juga kau tak pernah tahu, seberapa besar aku mencintaimu dan mengharap kau untuk menjadi pendampingku. Tetapi jika Tuhan  menghendaki, maka kaulah yang akan dipilih-Nya untuk menjadi ayah dan imam untuk aku dan anak-anakku kelak."
      Aku menjatuhkan diriku di lantai, bersujud dan tafakur dalam tangis. Bimbing aku ya, Tuhan! Aku telah siap menghadapi semua 'cobaan' yang mungkin Engkau berikan kepadaku dalam bentuk pernikahan ini. @@@

Cerita ini adalah fiktif belaka, sekedar hanya untuk mengisi waktu luang yang tak berguna, ku berharap cerita ini bisa menjadi titian hidup bagi yang membutuhkan tumpuan dan pendamping hidup atau setidaknya dapat menjadi bahan bacaan di kala sumpek ...... wasalam. Goresan Markas Besar Anak Rakyat.

Kamis, 11 Agustus 2011

SIAPA DAN LEMBAGA MANA LAGI YANG HARUS DI PERCAYA DI NEGARA INI.


Anak Rakyat: Nazarudin tidak pernah absen dari pemberitaan media, bahkan sepekan ini Nazarudin kembali membuat heboh perpolitikan di negeri ini. Kali ini Nazarudin menuding salah seorang pimpinan KPK yang tersangkut suap atau korupsi. Sungguh memalukan jika tudingan yang di lontarkannya terbukti benar. Pada kenyataanya korupsi memang sulit diberantas, berbagai langkah antikorupsi telah dilakukan, mulai dari membuat undang-undang hingga membentuk badan khusus yang bertugas menangani korupsi.
Selain KPK sebenarnya ada badan independen lain yang berpotensi memainkan berbagai peran penting dalam pemberantasan korupsi, yakni Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Komisi Ombudsman Nasional (KON), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Indonesia (PPATK) serta Komisi Yudisial (KY).
Dari semua badan yang pernah dibentuk itu, kewenangan yang dimiliki KPK menjadikan KPK sebagai tulang punggung pemberantasan korupsi. Namun ternyata, KPK pun tak bisa diharapkan sehingga terlontar ide Marzuki Alie (Ketua DPR dari Partai Demokrat) agar lembaga ini dibubarkan saja jika tidak ada orang yang kapabel untuk memimpin KPK.
Jika kita teliti lebih dalam, penyebab maraknya korupsi adalah merebaknya demokrasi. Bagaimana tidak, korupsi di alam demokrasi ini telah merasuk ke setiap instansi pemerintah, parlemen atau wakil rakyat dan swasta.
DPR dan DPRD yang dianggap perwujudan demokrasi malah merupakan sarang koruptor. Jual-beli aneka RUU, utak-atik anggaran, pemekaran wilayah, pemilihan kepala daerah, proyek pembangunan, pemilihan pejabat, dan sebagainya ditengarai menjadi lahan basah korupsi para anggota dewan.
Gaji dan tunjangan yang "tak seberapa", membuat para penguasa atau wakil rakyat mencari cara cepat mengembalikan biaya politik dalam proses Pemilu tersebut, yaitu dengan cara “korupsi”. Inilah lingkaran setan korupsi dalam sistem demokrasi.
Dari fakta diatas, sudah saatnya dilakukan reformasi dalam bidang hukum dengan membuat suatu payung/aturan hukum yang bisa menjadi dasar untuk menghukum gantung bagi para koruptor dan kroni kroninya kalau memang terbukti bersalah, sehingga membuat gentar para calon koruptor baru untuk beraksi demikian pula bagi para pelaku dan pengedar narkoba dan obat terlarang lainnya.
Negara ini sudah memikul beban terlalu berat tentang banyaknya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, kota kota besar hampir tenggelam dengan beratnya beban urbanisasi yang berimbas pada pesatnya pertumbuhan prostitusi terselubung, hal ini merupakan imbas dari ketimpangan sosial yang ada di negara ini.
Kata orang bijak Banyak jalan menuju roma, namun kata rakyat kecil  hanya  hukuman mati merupakan salah satu jalan yang bisa mengurangi koruptor, pengedar dan pengguna nakoba. Jika itu terbukti, mungkin saat itulah akan ada “orang baru yang bisa dipercaya”. Wasalam.....!!!