SUARA RAKYAT : Euro berhasil rebound akhir pekan lalu berkat surutnya kecemasan pasar
soal ekonomi China. Namun, kondisi ini kemungkinan hanya sementara, dan
euro masih rentan akan tekanan berikutnya.
Euro diperdagangkan 0,6% di atas level terendah dalam dua tahun terakhir hari ini. Penguatan euro terjadi menyusul rally saham global berkat berkurangnya kecemasan mengenai ekonomi China, yang dipicy oleh data PDB yang masih sesuai prediksi minggu lalu dan pemerintahnya meningkatkan prospek stimulus bila diperlukan. PDB tumbuh 7,6% di kuartal kedua, masih di kisaran ekspektasi, mengangkat saham Eropa dan AS.
Euro terbantu oleh kelegaan pasar data China ternyata tidak mengindikasikan hard landing. Euro juga terangkat oleh lelang obligasi Italia yang sukses. Tapi perlu diwaspadai kelegaan ini tidak akan berlangsung lama. Tanpa didukung berita positif baru, penguatan hanya akan tergerus, dan euro melanjutkan trennya.
Euro diperdagangkan di $1,2233, berusaha menjauhi level terendah dalam tahun terakhir $1,2162, yang kini menjadi support kuat. Bila tembus level itu, euro terancam ke $1,2100 Kalaupun bisa melanjutkan gain-nya, Euro sepertinya masih sulit untuk bisa menembus $1,24 dalam waktu dekat. Terhadap yen, euro menguat ke 97,80, setelah tumbang ke level terendah dalam enam minggu terakhir 96,43.
Aktivitas perdagangan akan sepi di Asia dengan ditutupnya pasar Jepang. Tapi akan aktif lagi dalam perdagangan di Eropa dan AS. Eropa akan mengumumkan data inflasi dan perdagangan hari ini, angka yang mengecewakan dapat menjadi alasan untuk menekan euro lagi. Data inflasi zona euro diperkirakan akan menunjukkan tekanan harga di kawasan itu tetap di 2,4% selama Juni, tidak ada revisi.
Fokus pasar berikutnya adalah data penjualan ritel AS, yang akan diumumkan malam nanti. Data ini diperkirakan akan menunjukkan penjualan naik 0,2% selama Juni. Bila Laporan keuangan korporat AS nanti malam mengecewakan, bisa menjadi faktor yang menekan saham dan akhirnya sentiment secara keseluruhan. Pasar juga menantikan pidato Ketua the Fed Ben Bernanke besok malam, sembari mencari petunjuk mengenai prospek kebijakan. Pasar juga memantau yield obligasi Spanyol dan Italia, yang masih rawan akan kenaikan.
Euro diperdagangkan 0,6% di atas level terendah dalam dua tahun terakhir hari ini. Penguatan euro terjadi menyusul rally saham global berkat berkurangnya kecemasan mengenai ekonomi China, yang dipicy oleh data PDB yang masih sesuai prediksi minggu lalu dan pemerintahnya meningkatkan prospek stimulus bila diperlukan. PDB tumbuh 7,6% di kuartal kedua, masih di kisaran ekspektasi, mengangkat saham Eropa dan AS.
Euro terbantu oleh kelegaan pasar data China ternyata tidak mengindikasikan hard landing. Euro juga terangkat oleh lelang obligasi Italia yang sukses. Tapi perlu diwaspadai kelegaan ini tidak akan berlangsung lama. Tanpa didukung berita positif baru, penguatan hanya akan tergerus, dan euro melanjutkan trennya.
Euro diperdagangkan di $1,2233, berusaha menjauhi level terendah dalam tahun terakhir $1,2162, yang kini menjadi support kuat. Bila tembus level itu, euro terancam ke $1,2100 Kalaupun bisa melanjutkan gain-nya, Euro sepertinya masih sulit untuk bisa menembus $1,24 dalam waktu dekat. Terhadap yen, euro menguat ke 97,80, setelah tumbang ke level terendah dalam enam minggu terakhir 96,43.
Aktivitas perdagangan akan sepi di Asia dengan ditutupnya pasar Jepang. Tapi akan aktif lagi dalam perdagangan di Eropa dan AS. Eropa akan mengumumkan data inflasi dan perdagangan hari ini, angka yang mengecewakan dapat menjadi alasan untuk menekan euro lagi. Data inflasi zona euro diperkirakan akan menunjukkan tekanan harga di kawasan itu tetap di 2,4% selama Juni, tidak ada revisi.
Fokus pasar berikutnya adalah data penjualan ritel AS, yang akan diumumkan malam nanti. Data ini diperkirakan akan menunjukkan penjualan naik 0,2% selama Juni. Bila Laporan keuangan korporat AS nanti malam mengecewakan, bisa menjadi faktor yang menekan saham dan akhirnya sentiment secara keseluruhan. Pasar juga menantikan pidato Ketua the Fed Ben Bernanke besok malam, sembari mencari petunjuk mengenai prospek kebijakan. Pasar juga memantau yield obligasi Spanyol dan Italia, yang masih rawan akan kenaikan.







0 komentar:
Posting Komentar