SUARA RAKYAT : Euro berhasil rebound dari level terendah dalam dua tahun terakhir atas
dollar namun sentimen pasar masih rentan akan gejolak yang mungkin
timbul dari kekhawatiran mengenai ekonomi global dan krisis Eropa.
Para trader mengatakan dorongan ke euro datang dari short covering, menyusul beberapa berita positif yang datang dari Eropa. Menteri keuangan zona euro kemarin sepakat memberi tambahan satu tahun ke Spanyol sampai 2014 untuk mencapai target defisit sesuai aturan Uni Eropa. Mereka juga sepakat menyiapkan dana siaga untuk Spanyol sebesar 30 miliar euro yang tersedia akhir bulan ini.
Namun, para menteri belum mencapai perkembangan berarti soal penyelamatan perbankan dan pembelian obligasi darurat, dua masalah yang menjadi kekhawatiran utama pasar. Sementara itu, Parlemen Jerman lewat voting menyetujui dana talangan permanen atau European Stability Mechanisim (ESM). Meski telah disetujui parlemen, ESM harus didukung oleh pengadilan Konstitusi Jerman dan kepala negara bagian sebagai bagian proses ratifikasi.
Outlook euro masih negatif, dibayangi tingginya yield obligasi Spanyol dan Italia, serta belum jelasnya detil mengenai penyehatan perbankan dan pelonggaran syarat bailout. Yield obligasi Spanyol kembali tembus 7% kemarin, bila tetap tinggi maka bisa menyulitkan euro. Belum lagi data ekonomi yang dapat menambah bukti perlambatan global.
Dalam perdagangan di Asia, euro berada di $1,2292, sedikit melemah dari penutupan New York $1,2312. Namun masih di atas level terendah sejak Juni 2010 $1,2253, yang dicatat kemarin. Bila rebound berlanjut, euro akan menguji $1,2358 (23,6% retracement kejatuhan 2-5 Juli), sebelum bisa meraih $1,2400. Namun bila bearish masih mendominasi, kejatuhan berlanjut dengan support di $1,2285 dan $1,2250.
Mengenai mata uang lain, aussie terkoreksi menyusul data perdagangan China yang meski memperlihatkan peningkatan surplus, pertumbuhan impornya tidak sesuai harapan. Pertumbuhan impor China dianggap penting untuk kesehatan ekonomi mitra dagangnya, dan China adalah pasar ekspor terbesar Australia. Aussie melemah sampai $1,0170, setelah sempat bertahan di $1,0205.
Dollar menguat atas rivalnya berkat data China itu, dengan indeksnya naik 0,16% ke 83,42 hari ini. Sterling juga turut melemah, turun 0,11% aatas dollar di $1,5509. Serangkaian data Inggris dapat mempengaruhi pergerakan the cable, yaitu data kinerja perdagangan dan produksi industrial.
Para trader mengatakan dorongan ke euro datang dari short covering, menyusul beberapa berita positif yang datang dari Eropa. Menteri keuangan zona euro kemarin sepakat memberi tambahan satu tahun ke Spanyol sampai 2014 untuk mencapai target defisit sesuai aturan Uni Eropa. Mereka juga sepakat menyiapkan dana siaga untuk Spanyol sebesar 30 miliar euro yang tersedia akhir bulan ini.
Namun, para menteri belum mencapai perkembangan berarti soal penyelamatan perbankan dan pembelian obligasi darurat, dua masalah yang menjadi kekhawatiran utama pasar. Sementara itu, Parlemen Jerman lewat voting menyetujui dana talangan permanen atau European Stability Mechanisim (ESM). Meski telah disetujui parlemen, ESM harus didukung oleh pengadilan Konstitusi Jerman dan kepala negara bagian sebagai bagian proses ratifikasi.
Outlook euro masih negatif, dibayangi tingginya yield obligasi Spanyol dan Italia, serta belum jelasnya detil mengenai penyehatan perbankan dan pelonggaran syarat bailout. Yield obligasi Spanyol kembali tembus 7% kemarin, bila tetap tinggi maka bisa menyulitkan euro. Belum lagi data ekonomi yang dapat menambah bukti perlambatan global.
Dalam perdagangan di Asia, euro berada di $1,2292, sedikit melemah dari penutupan New York $1,2312. Namun masih di atas level terendah sejak Juni 2010 $1,2253, yang dicatat kemarin. Bila rebound berlanjut, euro akan menguji $1,2358 (23,6% retracement kejatuhan 2-5 Juli), sebelum bisa meraih $1,2400. Namun bila bearish masih mendominasi, kejatuhan berlanjut dengan support di $1,2285 dan $1,2250.
Mengenai mata uang lain, aussie terkoreksi menyusul data perdagangan China yang meski memperlihatkan peningkatan surplus, pertumbuhan impornya tidak sesuai harapan. Pertumbuhan impor China dianggap penting untuk kesehatan ekonomi mitra dagangnya, dan China adalah pasar ekspor terbesar Australia. Aussie melemah sampai $1,0170, setelah sempat bertahan di $1,0205.
Dollar menguat atas rivalnya berkat data China itu, dengan indeksnya naik 0,16% ke 83,42 hari ini. Sterling juga turut melemah, turun 0,11% aatas dollar di $1,5509. Serangkaian data Inggris dapat mempengaruhi pergerakan the cable, yaitu data kinerja perdagangan dan produksi industrial.







0 komentar:
Posting Komentar