Suara Rakyat - Perlahan tapi pasti, kiris euro
bakal menerpa kawasan perekonomian di Asia Timur. Di kawasan ini,
sepuluh negara ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei
Darussalam, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar,
plus China, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan bakal terhambat laju
pertumbuhannya.
Masalah di kawasan Eropa, kata ADB, bisa berubah menjadi malapetaka ekonomi global dan berujung pada krisis ekonomi dunia.
Catatan termutakhir dari Bank Pembangunan Asia (ADB)
menunjukkan sampai dengan akhir tahun depan, pertumbuhan di kawasan ini
cuma mentok di angka 7,2 persen. Ini merupakan koreksi dari taksiran
sebelumnya yakni 7,5 persen sebagaimana rilis pada September 2011.
Sebagaimana warta AP dan AFP
pada Selasa (6/12/2011), ADB mengatakan turunnya ramalan pertumbuhan
terjadi terutama akibat mengendurnya permintaan di pasar eksternal.
Masalah di kawasan Eropa, kata ADB, bisa berubah menjadi malapetaka
ekonomi global dan berujung pada krisis ekonomi dunia. "Efek tahap
pertama akan menimpa negara-negara yang memang sangat tergantung pada
pasar ekspor," kata Iwan Azis, kepala Kantor Integrasi Ekonomi Kawasan
ADB.
"Efek kedua sayangnya akan langsung mengenai seluruh negara yang sedang tumbuh di kawasan ekonomi Asia Timur," tambah Iwan.
Inflasi
Dengan
latar belakang semacam ini ADB menganjurkan agar negara-negara di
kawasan merespon dengan segera, tegas, dan bersama dalam upaya bersiaga
menghadapi krisis.
ADB juga mengingatkan akibat buruk
dari praktik-praktik ekonomi lain seperti proteksionisme. Hal macam ini
bisa berakibat pada pelarian modal dan inflasi.
Meski demikian,
menurut laporan ADB inflasi di kawasan ini sudah melewati puncaknya pada
sebagian besar negara. Makanya, tidak diprediksi muncul risiko resesi
di kawasan.







0 komentar:
Posting Komentar